Senin, 14 Mei 2012

APA ARTI SEBUAH KEBAHAGIAAN


Ada yang bilang kebahagiaan itu dari berasal dari hati. Ada juga yang berpendapat bahwa bahagia itu dapat dibeli. Atau bahkan ada juga yang bilang bahwa bahagia itu hanya untuk dirasakan bukan untuk dikonsep.

Apakah bahagia itu? Apakah di saat kita bergelimangan harta sedangkan orang lain kesusahan? Apakah di saat kita sehat sedangkan yang lain sakit tak berkesudahan?Apakah di saat kita berhasil sementara orang lain berkesulitan?

Apakah kita selalu bahagia ketika kita berada di jenjang SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, hingga dunia kerja nanti serta dengan popularitas saat ini? Akan tetapi sepertinya kenyataan tidak menunjukkan seperti itu.

Ada sebuah istilah di dalam dunia perfilman yaitu Happy Ending (Akhir Yang Bahagia). Tetapi sekali lagi, entah mengapa saya sedikit tergelitik mendengar istilah tersebut. Apakah bahagia itu selalu datangnya di saat-saat terakhir? Dalam hati apakah bahagia itu seperti pahlawan-pahlawan di dalam film Action Heroes? Yang mereka selalu datang terlambat! Kalau seperti itu, bisa jadi kita bahagia nanti pada saat kita sudah menjadi kakek atau nenek (Kalau umur kita panjang tentunya). Lantas bagaimana kita menikmati kebahagiaan itu. Kalau ternyata umur kita tinggal sedikit lagi untuk menikmati hal tersebut.

Seketika saya ingat sebuah ucapan dari seorang filsuf atau sufi Imam Al Ghazali, mengenai kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa Bahagia itu ketika kita sudah ditingkat Ma’rifatullah (Mengenal Allah). Seperti halnya perasaan seorang rakyat kecil yang berkenalan dengan pejabat kelurahan, maka ia akan bertambah rasa bahagianya ketika ia berkenalan dengan camat, walikota, gubernur, bahkan presiden atau jabatan-jabatan yang dianggap tinggi. Maka bagaimana tidak bahagianya kita jika kita sudah dapat mengenal Raja dari Segala Raja di dunia ini yakni Allah SWT.

Walau ditimpa berbagai macam parahnya ujian kehidupan ini. Jikalau kita mengenal Allah maka kita akan merasa bahwa kita akan mendapati kebahagiaan itu. Karena kita qonaah (baca: menerima) terhadap segala iradah Allah SWT. Seperti halnya banyak kita jumpai orang yang miskin secara ekonomi di pelosok-pelosok desa akan tetapi hidup mereka bahagia, karena mereka memang menerima dan tidak mengeluh dengan keadaan mereka. Berbeda dengan manusia-manusia rakus yang bergelimangan harta karna menipu rakyat, yang bisa membeli segala sesuatu dengan uangnya, hidup mereka pun tidak-lah se-bahagia yang orang lain bayangkan. Dan bahkan, mungkin kita lebih bahagia dari mereka.
 Bersyukurlah....Amin

Tidak ada komentar: