A. Latar Belakang
Kakao
adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang
merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang tahun. Sehingga,
banyak petani kepincut untuk membudidayakannya. Kakao atau Theobroma cacao L.,
merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cocok dengan kultur tanah dan
iklim di Indonesia. Tanaman ini termasuk golongan tumbuhan tropis.
Karena, hasil komoditasnya yang
bernilai ekonomi tinggi mendorong minat para petani di sana untuk
membudidayakannya. Namun, tidaklah mudah membudidayakan tanaman ini. Persiapan
naungan dan lahan merupakan dua hal penting yang perlu diperhatikan. Naungan
itu bisa berupa tanaman pelindung, seperti lamtoro, gleresidae, dan albazia.
Selebihnya, proses membudidayakan kakao tak terlalu rumit.
Prospek bisnis budidaya
tanaman kakao sangat menjanjikan
jika di tanam pada tanah yang sesuai. Tanaman kako perlu di tanam di tanah yang
kaya akan unsur hara dan mikro alami. Tanaman kakao juga perlu perhatian ekstra
dalam perawatan agar bersih dari hama dan penyakit. Jika hal tersebut
diperhatikan maka tanaman kakao akan menghasilkan kualitas yang baik dan hasil
juga berlimpah.
Menurut Balitbang Pertanian
Departemen Pertanian , pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan
lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga
petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta
memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah
karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US$ 701 juta, meskipun pada tahun
2005 menurun sumbangan devisanya menjadi sebesar US$ 664,35 juta karena
fluktuasi rupiah terhadap dolar dan diterapkannya peraturan WTO yang memberikan
hak kepada negara importir untuk mengklaim mutu kakao yang diimpor.
Perkebunan kakao Indonesia mengalami
perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an. Pada tahun 2005, areal perkebunan
kakao Indonesia tercatat seluas 1.167.046 ha dimana sebagian besar (92,6 %)
dikelola oleh rakyat dan selebihnya 3,3 % perkebunan besar negara serta 4,1 %
perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar
adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Di samping itu juga diusahakan jenis
kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Keberhasilan perluasan areal tersebut telah
memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah
perkakaoan dunia. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao
terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading pada tahun 2002, walaupun kembali
tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003. Tergesernya posisi
Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan
hama pengerek buah Kakao (PBK). Di samping itu, perkakaoan Indonesia dihadapkan
pada beberapa permasalahan, antara lain mutu produk yang masih rendah dan masih
belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao.
Indonesia sebenarnya berpotensi
untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama
yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan
dan dikelola secara baik. Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar
untuk pengembangan kakao yaitu lebih dari 6,2 juta ha terutama di Irian Jaya,
Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Sulawesi Tenggara. Disamping itu
kebun yang telah dibangun masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya
karena produktivitas rata-rata saat ini kurang dari 50 % potensinya. Di sisi
lain situasi perkakaoan dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit,
sehingga harga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi bahkan cenderung
dari tahun ke tahun terus meningkat. Posisi akhir harga kakao dunia tahun 2006
mencapai US$ 1,58,7/lb atau US$ 49,39 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
harga pada tahun 2001 sebesar US$ 49,39 /lb.
Kondisi
ini merupakan suatu peluang yang baik untuk segera dimanfaatkan. Upaya
peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor
biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum
tergarap. Berdasarkan kondisi harga kakao dunia yang relatif stabil dan cukup
tinggi tersebut maka perluasan areal perkebunan kakao Indonesia diperkirakan
akan terus berlanjut dan hal ini perlu mendapat dukungan agar kebun yang
berhasil dibangun dapat memberikan produktivitas yang tinggi.
Adapun proses awal budidaya tanaman
kakao yaitu :
1. Persiapan
Lahan
§ Bersihkan
lahan dari rumput liar yang mengganggu (jika lahan kosong).
§ Gunakan
tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti
Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C.
caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan
§ Setahun
sebelum proses tanam lahan sebaiknya diberi tanaman pelindung seperti lamtoro,
Albazia dan lainnya namun jika sudah mencapai tahun ketiga semenjak masa tanam,
maka tanaman pelindung harus dikurangi sampai tinggal satu phon pelindung untuk
tiga tanaman kako.(1 : 3)
2. Pembibitan
§ Sebelum
dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu
gosok.
§ Rendam
biji kakao dengan Biotama 1, untuk mempercepat masa dormansi.
§ Biji
kakao dikecambahkan dengan karung goni dalam ruangan, setiap hari disiram 2
kali dalam sehari (pagi dan sore).
§
Sementara itu siapkan
polibag ukuran 30 x 20 cm , isi dengan tanah dan pupuk kandang (1 : 1) yang
dibuat menggunakan Biotama 3.
§ Kecambah
dipindah ke Polybag jika 2-3 hari yang berkecambah lebih 50%.
§ Tiap
2 sd 3 minggu sekali bibit disemprot dengan campuran Biotama 1 dan air (1 tutup
botol Biotama 1 dilarutkan dalam air 1 liter) pada pagi hari (sebelum jam 7
pagi) atau sore hari (setelah jam 16.00) setelah matahari mulai redup.
3. Penanaman
dan pemeliharaan
Proses
penanaman dilakukan pada akhir musim hujan, dimana diawali dengan membuat
lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm yang telah diberikan pupuk kandang
(yang dibuat dengan Biotama 3) sebanyak 0,5 sd 1 kg/lubang. Sebelum penanaman
bibit dipastikan bahwa tanaman naungan sudah mempunyai tinggi tanaman sekitar 1
sd 1,5 m.
Setelah tanaman berumur 1 bulan
setelah tanam, semprotkan larutan Biotama 1 & Biotama 5 pada tanaman di
pagi hari sebelum matahari terbit kalau di Indonesia sebelum jam 7 pagi atau
sore hari kalau di Indonesia sekitar setelah jam 4 sore (saat matahari belum
terbit ataupun matahari sudah terbenam) , waktu penyiraman setiap 2 minggu
sekali secara rutin sampai tanaman berbunga. Tanaman disemprot 5 – 6 tangki @
15 liter larutan Biotama / hektar.
4. Pemupukan
Dosis
pemupukan tanaman yang belum berproduksi (gram/tanaman):
§ Umur
2 bulan: ZA=50 gram/pohon.
§ Umur
6 bulan: ZA=75 gram/pohon; TSP=50 gram/pohon; KCl=30 gram/pohon; Kleserit=25
gram/pohon
§ Umur
12 bulan: ZA=100 gram/pohon
§ Umur
18 bulan: ZA=150 gram/pohon; TSP=100 gram/pohon; KCl=70 gram/pohon; Kleserit=50
gram/pohon
Umur 24 bulan: ZA=200
gram/pohon Dosis pemupukan tanaman berproduksi
(gram/tanaman):a) Umur 3 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x
50 gram/pohon, KCl = 2 x 50 gram/pohon.b) Umur 4 tahun: ZA = 2 x
100 gram/pohon, Urea = 2 x 100 gram/pohon, KCl = 2 x 100
gram/pohon.c) > 5 tahun: ZA = 2 x 250 gram/pohon, Urea = 2 x 125
gram/pohon, KCl = 2 x 125 gram/pohon. Pemupukan dilakukan dengan membuat
alur sedalam 10 cm di sekeliling batang kakao dengan diameter kira-kira ½
tajuk. Waktu pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim hujan.
B. Analisis Anggaran
Dalam
proses budidaya tanaman kakao, pendapatan bersih tani merupakan suatu tolak
ukur untuk melihat profitabilitas tahunan suatu usaha tani kakao rakyat. Dimana
pendapatan bersih usaha tani dipeoleh dari hasil pengurangan seluruh biaya
secara riil yang dikeluarkan oleh petani selama proses perawatan atau pemuliaan
tanaman. Beberapah factor produiksi seperti tenaga kerja keluarga, modal
sendiri, serta tanah milik sendiri tidak dihitung. Adapun pendapatan produksi
tanaman kakao dalam lahan 1 hektar yaitu :
1. Agro
Input
Agro
input yang dibutuhkan untuk usaha tani kakao 1 Ha.
a. Bibit
coklat 1.010 pohon x Rp. 2.500 = Rp. 2.525.000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar