Senin, 28 Mei 2012

Analisis Usaha Tani Kakao


A. Latar Belakang
Kakao adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang tahun. Sehingga, banyak petani kepincut untuk membudidayakannya. Kakao atau Theobroma cacao L., merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cocok dengan kultur tanah dan iklim di Indonesia. Tanaman ini termasuk golongan tumbuhan tropis.
            Karena, hasil komoditasnya yang bernilai ekonomi tinggi mendorong minat para petani di sana untuk membudidayakannya. Namun, tidaklah mudah membudidayakan tanaman ini. Persiapan naungan dan lahan merupakan dua hal penting yang perlu diperhatikan. Naungan itu bisa berupa tanaman pelindung, seperti lamtoro, gleresidae, dan albazia. Selebihnya, proses membudidayakan kakao tak terlalu rumit.
            Prospek bisnis budidaya tanaman kakao sangat menjanjikan jika di tanam pada tanah yang sesuai. Tanaman kako perlu di tanam di tanah yang kaya akan unsur hara dan mikro alami. Tanaman kakao juga perlu perhatian ekstra dalam perawatan agar bersih dari hama dan penyakit. Jika hal tersebut diperhatikan maka tanaman kakao akan menghasilkan kualitas yang baik dan hasil juga berlimpah.
            Menurut Balitbang Pertanian Departemen Pertanian , pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US$ 701 juta, meskipun pada tahun 2005 menurun sumbangan devisanya menjadi sebesar US$ 664,35 juta karena fluktuasi rupiah terhadap dolar dan diterapkannya peraturan WTO yang memberikan hak kepada negara importir untuk mengklaim mutu kakao yang diimpor.
            Perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an. Pada tahun 2005, areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 1.167.046 ha dimana sebagian besar (92,6 %) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 3,3 % perkebunan besar negara serta 4,1 % perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Di samping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
             Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading pada tahun 2002, walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003. Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan hama pengerek buah Kakao (PBK). Di samping itu, perkakaoan Indonesia dihadapkan pada beberapa permasalahan, antara lain mutu produk yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao.
            Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik. Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar untuk pengembangan kakao yaitu lebih dari 6,2 juta ha terutama di Irian Jaya, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Sulawesi Tenggara. Disamping itu kebun yang telah dibangun masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya karena produktivitas rata-rata saat ini kurang dari 50 % potensinya. Di sisi lain situasi perkakaoan dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit, sehingga harga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi bahkan cenderung dari tahun ke tahun terus meningkat. Posisi akhir harga kakao dunia tahun 2006 mencapai US$ 1,58,7/lb atau US$ 49,39 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada tahun 2001 sebesar US$ 49,39 /lb.
Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik untuk segera dimanfaatkan. Upaya peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Berdasarkan kondisi harga kakao dunia yang relatif stabil dan cukup tinggi tersebut maka perluasan areal perkebunan kakao Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut dan hal ini perlu mendapat dukungan agar kebun yang berhasil dibangun dapat memberikan produktivitas yang tinggi.
            Adapun proses awal budidaya tanaman kakao yaitu :
1.      Persiapan Lahan
§  Bersihkan lahan dari rumput liar yang mengganggu (jika lahan kosong).
§  Gunakan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C. caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan
§  Setahun sebelum proses tanam lahan sebaiknya diberi tanaman pelindung seperti lamtoro, Albazia dan lainnya namun jika sudah mencapai tahun ketiga semenjak masa tanam, maka tanaman pelindung harus dikurangi sampai tinggal satu phon pelindung untuk tiga tanaman kako.(1 : 3)
2.      Pembibitan
§  Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok.
§  Rendam biji kakao dengan Biotama 1, untuk mempercepat masa dormansi.
§  Biji kakao dikecambahkan dengan karung goni dalam ruangan, setiap hari disiram 2 kali dalam sehari (pagi dan sore).
§  Sementara itu siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm , isi dengan tanah dan pupuk kandang (1 : 1) yang dibuat menggunakan Biotama 3.
§  Kecambah dipindah ke Polybag jika 2-3 hari yang berkecambah lebih 50%.
§  Tiap 2 sd 3 minggu sekali bibit disemprot dengan campuran Biotama 1 dan air (1 tutup botol Biotama 1 dilarutkan dalam air 1 liter) pada pagi hari (sebelum jam 7 pagi) atau sore hari (setelah jam 16.00) setelah matahari mulai redup.
3.      Penanaman dan pemeliharaan
Proses penanaman dilakukan pada akhir musim hujan, dimana diawali dengan membuat lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm yang telah diberikan pupuk kandang (yang dibuat dengan Biotama 3) sebanyak 0,5 sd 1 kg/lubang. Sebelum penanaman bibit dipastikan bahwa tanaman naungan sudah mempunyai tinggi tanaman sekitar 1 sd 1,5 m.
            Setelah tanaman berumur 1 bulan setelah tanam, semprotkan larutan Biotama 1 & Biotama 5 pada tanaman di pagi hari sebelum matahari terbit kalau di Indonesia sebelum jam 7 pagi atau sore hari kalau di Indonesia sekitar setelah jam 4 sore (saat matahari belum terbit ataupun matahari sudah terbenam) , waktu penyiraman setiap 2 minggu sekali secara rutin sampai tanaman berbunga. Tanaman disemprot 5 – 6 tangki @ 15 liter larutan Biotama / hektar.
4.      Pemupukan
Dosis pemupukan tanaman yang belum berproduksi (gram/tanaman):

§  Umur 2 bulan: ZA=50 gram/pohon.
§  Umur 6 bulan: ZA=75 gram/pohon; TSP=50 gram/pohon; KCl=30 gram/pohon; Kleserit=25 gram/pohon
§  Umur 12 bulan: ZA=100 gram/pohon
§  Umur 18 bulan: ZA=150 gram/pohon; TSP=100 gram/pohon; KCl=70 gram/pohon; Kleserit=50 gram/pohon
Umur 24 bulan: ZA=200 gram/pohon Dosis pemupukan tanaman berproduksi (gram/tanaman):a)   Umur 3 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 50 gram/pohon, KCl = 2 x 50 gram/pohon.b)   Umur 4 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 100 gram/pohon, KCl = 2 x 100 gram/pohon.c)   > 5 tahun: ZA = 2 x 250 gram/pohon, Urea = 2 x 125 gram/pohon, KCl = 2 x 125 gram/pohon. Pemupukan dilakukan dengan membuat alur sedalam 10 cm di sekeliling batang kakao dengan diameter kira-kira ½ tajuk. Waktu pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim hujan.



B. Analisis Anggaran
Dalam proses budidaya tanaman kakao, pendapatan bersih tani merupakan suatu tolak ukur untuk melihat profitabilitas tahunan suatu usaha tani kakao rakyat. Dimana pendapatan bersih usaha tani dipeoleh dari hasil pengurangan seluruh biaya secara riil yang dikeluarkan oleh petani selama proses perawatan atau pemuliaan tanaman. Beberapah factor produiksi seperti tenaga kerja keluarga, modal sendiri, serta tanah milik sendiri tidak dihitung. Adapun pendapatan produksi tanaman kakao dalam lahan 1 hektar yaitu :
1.      Agro Input
Agro input yang dibutuhkan untuk usaha tani kakao 1 Ha.
a.       Bibit coklat     1.010 pohon  x Rp. 2.500                   = Rp. 2.525.000
b.      Sarana produksi
§  Pupuk
-          Urea 550 kg x Rp. 1.500                = Rp.    825.000
-          Sp36 250 kg x Rp  2.000                = Rp.    500.000
-          Kcl   200 kg x Rp  2.800                = Rp.    560.000
-          ZA    200 kg x Rp  1.500                = Rp.    300.000
§  Herbisida
-          Gramoxon  5 liter x Rp. 55.000          = Rp.    275.000
§  Pestisida
-          Decis 25 EC 500ml x Rp. 500            = Rp.    250.000
c.       Pajak lahan dalam 1 tahun                                          = Rp.      90.000
d.      Biaya tenaga kerrja produksi
-          Pembersihan lahan  25 HOK x Rp. 40.000= Rp. 1.000.000
-          Pembuatan lubang 20 HOK x Rp. 40.000 = Rp.     800.000
-          Angkutan Bibit  3 HOK x Rp. 40.000       = Rp.     120.000
-          Penanaman  20 HOK x Rp. 40.000            = Rp.     800.000
-          Pemupukan  4 HOK x Rp. 40.000             = Rp.     160.000
-          Penyiangan  2 HOK x Rp. 40.000             = Rp.       80.000
-          Pemberantasan Hama dan
-          Penyakit  5 HOK x RP 40.000                   = Rp.   200.000
-          Pemangkasan 10 HOK x Rp. 40.000         = Rp.    400.000
e.       Panen dan Pascapanen
-          Pemetikan buah 5 HOK x Rp. 40.000       = Rp.   200.000
-          Pembelahan buah 2 HOK x Rp. 40.000     = Rp.      80.000
-          Pengeringan 4 HOK x Rp. 40.000             = Rp.   160.000
-          Pengepakan 2 HOK x Rp. 40.000              = Rp.      80.000
Total biaya                                                                  = Rp. 9.405.000
  
f.       Produksi
-          Harga per kg   = Rp. 21.000
-          Berat bersih     = 995 kg
Jumlah produksi : 1030 kg x Rp. 21.0000  = Rp. 21.630.000
g.      Biaya produksi  =  Rp. 9.405.000
h.      Keuntungan bersih = Rp. 21.630.000 - Rp. 9.405.000 = Rp. 12.225.000
i.        R/C  =  2,5
Kesimpulan : Usaha atau proses budidaya tanaman kakao layak untuk di usahakan karena telah terbukti bahwa setiap kita mengeluarkan modal sebesar Rp 1 maka akan dapat memberikan keuntungan sebesar Rp 2,5.

Tidak ada komentar: