Selasa, 29 Mei 2012

ANTISIPASI DAN ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM UNTUK TANAMAN PANGAN


Pada saat ini terjadi perubahan iklim yaitu terjadinya hujan yang berkepanjangan atau terjadinya musim kemarau berkepanjangan sehingga mengakibatkan terganggunya budidaya pertanian khususnya tanaman pangan yang mengakibatkan dapat terganggunya produksi tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi adalah salah satu upaya tetap terlaksananya budidaya pertanian tanaman pangan dengan baik sehingga produksi tetap terjamin dan dapat memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam antisipasi dan adaptasi perubahan iklim untuk tetap mendukung  terlaksananya proses budidaya tanaman pangan yang dilakukan para petani di lapangan akan diuraikan di bawah ini sbb;
Kenali perubahan iklim yaitu
Pengertian perubahan iklim perlu dicermati dan dipahami sebelum membahas data dan fakta seperti yang banyak dibicarakan orang. Pengertian perubahan iklim tidak terlepas dari istilah-istilah yang berkaitan dengan peristiwa perubahan iklim itu sendiri, seperti unsur-unsur perubahan iklim yang terdiri dari: suhu udara, kelembapan udara, pola curah hujan, iklim ekstrim (la-nina, el-nino) dan peningkatan muka air laut.
Pemahaman masyarakat petani, perubahan iklim adalah terjadinya musim hujan dan kemarau yang semakin sering tidak menentu, sedemikian rupa sehingga mengganggu kebiasaan petani atau perilaku pertanian dalam pelaksanaan budidaya pertanian dan mengancam hasil panen yang akan diperolehnya. Jadi penyuluh pertanian dan petani dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan jalan membandingkan iklim yang biasa terjadi sebelumnya dengan tanda-tanda perubahan iklim yang saat ini terjadi (misalnya suhu udara yang meningkat, pola curah hujan yang tidak menentu dan lain-lain).
Bila para penyuluh pertanian dan petani telah mendapatkan atau merasakan terjadinya tanda- tanda perubahan iklim, maka para penyuluh pertanian dan petani mengupayakan merubah pelaksanaan budidaya pertanian tanaman pangan yang selama ini dilakukan menjadi pelaksanaan yang dapat lebih mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan iklim sehingga proses budidaya tanaman pangan dapat terlaksana dengan baik.
Pemilihan  komoditi yang tahan kekeringan
Seperti yang telah dijelaskan di atas terjadi perubahan iklim yang meliputi terjadinya musim kemarau berkepajangan atau musim hujan berkepanjangan, yang mengakibatkan terganggunya tanaman pangan yang diusahakan para petani sehingga mengancam hasil panennya. Untuk mengatasi hal tersebut para penyuluh pertanian di lapangan dapat mendorong atau mengarahkan para petani dalam mengantisipasi dan mengadaptasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan jalan menanam komoditas tanaman pangan yang tahan kekeringan atau kebanjiran di lahan usaha taninya.
Kita ketahui ada beberapa komoditi tanaman pangan yang tahan kekeringan dan kebanjiran misalnya tanaman jagung, tanaman kacang hijau, tanaman kacang tanah, tanaman ubi kayu, tanaman talas / kimpul, tanaman ganyong. Bila komoditi tanaman pangan ini di usahakan para petani di lahan usaha taninya dan dikelola dengan baik maka sungguhpun terjadi perubahan ikilm mudah- mudahan usaha tani tanaman pangan yang dikelola petani tersebut akan memberikan hasil sesuai yang diharapkan petani di lapangan, yang dapat memenuhi kebutuhan petani dan keluarganya.
Pemilihan Varietas Unggul
Seperti yang jelaskan di atas bahwa terjadinya perubahan iklim baik berupa iklim ekstrim kering maupun ekstrim hujan yang berkepanjangan mambuat terganggunya pertumbuhan tanaman pertanian khususnya tanaman pangan. Para peneliti pertanian telah berusaha menemukan berbagai varietas tanaman pertanian yang tahan hama penyakit, kekeringan dan kebanjiran. Diketahui bahwa dari komoditi yang ada terdapat beberapa varietas unggul yang tahan perubahan iklim. Oleh karena itu para penyuluh pertanian dan petani di lapangan harus memperhatikan varietas yang akan ditanam disesuaikan dengan kondisi dan antisipasi perubahan iklim yang terjadi. Misalnya di wilayahnya diperkirakan akan terjadi ekstrim kering maka tanamlah varietas tanaman yang tahan akan kekeringan yang berdasarkan deskripsi varietas dapat diketahui.
Tinggi rendahnya tingkat kuantitas dan kualitas hasil suatu tanaman sebagain besar dipengarahi oleh varietas yang digunakan. Oleh karena itu pemilihan varietas menjadi sangat penting karena varietas unggul memiliki berbagai kelebihan misalnya produktivitas lebih tinggi, lebih toleran terhadap kondisi curah hujan, penyinaran matahari, suhu tanah dan sebagainya. Selain itu varietas yang tinggi produksinya dan tahan terhadap serangan berbagai jenis hama penyakit, kualitas hasil yang lebih baik seperti warna/penampakan, rasa dan lain- lain. Contoh varietas unggul yang tahan terhadap perubahan iklim antara lain; varietas padi Inpari 13, varietas jagung Hibrida P28, dan lain sebagainya.

Pelaksanaan tanam maju
Bila terjadi perubahan iklim misalnya tanda- tanda akan terjadinya musim kemarau yang tidak lama lagi datang maka selanjutnya para petani disarankan segera mempersiapkan lahan usaha taninya untuk ditanami tanaman pangan yang agak tahan kering seperti tanaman jagung, tanaman kacang tanah, tanaman kacang hijau, tanaman talas, tanaman ubi kayu dan lain-lain. Yang semua tanaman itu dapat segera ditanam di lahan usaha tani yang telah tersedia.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah dengan jalan pengolahan tanah lebih awal atau habis pemanenan komoditi tertentu seperti padi langsung dilakukan penugalan penanaman jagung di samping larikan padi yang baru dipanen sehingga pengolahan tanah bersamaan waktu penyiangan jagung yang sudah tumbuh. Dengan jalan begitu maka waktu tanam dapat lebih maju dari sebelumnya, sehingga waktu turun hujan yang ada atau tersedianya air dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman pangan yang dikelola para petani di lapangan.
Bila terjadi musim kemarau yang berkepanjangan dan sifatnya musim kemarau yang mendadak, sehingga untuk pengolahan tanah dan penanaman benih / bibit tidak memungkinkan lagi dilakukan segera, bila pun dipaksakan akan menyebabkan bibit/ benih tanaman pangan tidak akan tumbuh dengan baik. Maka selanjutnya yang dilakukan adalah memundurkan waktu pengolahan tanah dan penanaman tanaman pangan tersebut.
Pada waktu musim kemarau yang terjadi berkepanjangan itu, petani berupaya mempersiapkan lahannya sebisanya misalnya menggaruk / membasmi rumput yang ada di lahannya dan memperbaiki bedeng atau tanggul-tanggul yang ada di lahan. Setelah hujan tiba selanjutnya para petani segera mengolah tanah / membalik tanah dan meratakannya. Jika kondisi lahan bagus / tanah gembur lahan tidak usah diolah langsung ditanam dengan menugalkan bibit tanaman yang akan diusahakan misalnya jagung, kacang tanah, kacang hijau atau tanaman lainnya.
Untuk mengantisipasi dan adaptasi perubahan iklim yang terjadi  dan mendapatkan produksi yang baik untuk kesejahteraan petani dan keluarganya, maka dapat dilakukan dengan jalan pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan yang akan diusahakan para petani di lapangan. Dengan jalan ini diharapkan ancaman perubahan iklim yang terjadi terhadap penurunan produksi tanaman pangan dapat dihindari.
Kita ketahui bersama banyak komoditi tanaman pangan yang tahan kekeringan tetapi secara keseluruhan nilai ekonomisnya memang rendah, sebaliknya banyak tanaman pangan yang kurang tahan terhadap perubahan iklim tetapi nilai ekonomisnya kurang tinggi. Oleh karena itu untuk mendapatkan nilai ekonomis yang tinggi dan mengurangi kegagalan panen dapat dilakukan tanaman diversifikasi antara tanaman ekonomis tinggi dengan ekonomis rendah misalnya tanaman jagung diversifikasi dengan tanaman ubi jalar, tanaman kedelai diversifikasi dengan tanaman talas dan banyak lagi tanaman yang dapat diversifikasi antara satu tanaman dengan tanaman lainnya
Pengendalian Hama Penyakit yang Ramah lingkungan
Dengan perubahan ikilim yang terjadi maka intensitas serangan hama penyakit pada tanaman akan lebih meningkat, sehingga perlu melakukan antisipasi pengendalian hama penyakit yang lebih baik dan ramah lingkungan. Salah satu pestisida yang ramah lingkungan adalah pestisida organik atau pestisida hewani yang telah banyak dianjurkan para penyuluh pertanian. Karena pestisida organik dan hewani selain ramah lingkungan juga harganya lebih murah dan menampung tenaga kerja setempat.
Pestisida organik tersebut dapat digunakan karena merapakan bahan pemberantasan hama penyakit yang tepat untuk mengatasi perubahan iklim yang terjadi saat ini. Penggunaan pestisida organik ini juga salah satu upaya membantu untuk mengurangi adanya pengrusakan unsur- unsur lingkungan dan unsur-unsur organik tanah yang ada di dalam tanah sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi tersebut dapat mencapai pertumbuhan optimal yang diharapkan.
Penggunaan pestisida organik juga menjaga kesuburan tanah yang tidak terkontaminasi bahan-bahan kimia maka kesuburan tanah tetap terjaga dan mahluk hidup lainnya seperti musuh alami tetap hidup dengan baik. Perubahan iklim yang menyebabkan bergesemya unsur- unsur iklim seperti suhu udara, curah hujan , kelembaban udara, yang mempengaruhi lingkungan sekitar termasuk tanaman pertanian seperti padi dan lain-lain. Dengan menggunakan pestisida organik secara dini maka keadaan pertumbuhan tanaman padi dan tanaman pertanian lainnya akan lebih baik dan lingkungan sekitar juga terpelihara lebih baik.
Penggunaan Pupuk Organik
Penggunaan pupuk organik berupa pupuk kompos atau pupuk kandang sangat baik digunakan para petani di lapangan selain menyuburkan tanaman pangan yang dipelihara sekaligus juga sebagai upaya untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mengantisipasi perubahan iklim. Jika menggunakan pupuk anorganik memang secara cepat menyuburkan tanaman tetapi efek sampingannya merusak struktur tanah dan unsure  organisme yang hidup dalam tanah.
Disarankan para petani di lapangan menggunakan pupuk kompos yang bahan materinya dapat diperoleh dengan mudah dari sisa tanamannya ataupun sisa kotoran hewan yang dipelihara. Dengan menggunakan pupuk kompos atau organik ini selain menyuburkan tanaman, memperbaiki struktur tanah, berkembang organisme dalam tanah juga harga pupuk organik lebih  murah bila dibandingkan dengan pupuk anorganik,  selain itu pupuk organik dapat menampung tenaga kerja setempat.
Untuk mengatisipasi dan adaptasi perubahan iklim yang  terjadi maka dalam pemeliharaan tanaman pangan perlu pemeliharaan yang tepat yaitu meliputi; a) pemupukan tanaman yang baik, waktu pemupukan sebaiknya sore hari atau tidak pada waktu hujan dan pupuk sebaiknya dibenamkan di dalam tanah dekat akar tanaman, b) pemberantasan hama penyakit yang ramah lingkur dengan menggunakan pestisida organik / hewani dan  waktu penyemprotan usahakan angin tidak kencang, c) penyiangan rumput/gulma dilakukan secepat mungkin sehingga tidak terjadi persaingan dalam mengambil unsur hara, d) pengaturan air sebaik mungkin sehingga  hama penyakit tidak berkembang.
Jika pelaksanaan pemeliharaan tanaman panga tersebut di atas dilaksanakan dengan baik maka proses pertumbuhan tanaman pangan yang diusahakan para petani di lapangan akan berkembang dengan baik. Tentunya akan diperoleh produksi tanaman pangan  yang tinggi yang dapat memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Dan tak kalah pentingnya lingkungan hidup akan terpelihara dengan baik pula sehingga proses kehidupan rakyat Indonesia berjalan baik dan seimbang.
Jadi dengan terjadinya perubahan iklim yang ekstrim kering atau basah maka perencanaan tanam padi perlu dilakukan dengan baik dengan memperhatikan perkiraan iklim yang terjadi di wilayahnya berdasarkan data yang diperoleh dari tanda-tanda yang dapat maupun  rasakan dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Dan memperhatikan  waktu tanam dan umur tanaman padi sehingga dapat diperkirakan waktu panen tanaman pangan tiba dan pelaksanaan yang benar-benar tepat, baik tepat waktu,  tepat pelaksanaan dan tepat perlakuan. Bila hal ini dilakukan mudah-mudahan hasil panen yang diperoleh petani sesuai dengan harapan bersama, yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani.
Pemanenan merupakan tahap awal yang sangat penting dari seluruh rangkaian kegiatan penangan pasca panen tanaman pangan, karena tidak hanya berpengaruh terhadap kuantitas hasil panen melain juga berpengaruh terhadap kualitasnya.
Pemanenan yang terlalu awal, memberikan hasil panen dengan persentase butir muda yang tinggi sehingga kualitas biji dan daya simpannya rendah. Sedangkan pemanenan yang terlambat mengakibatkan penurunan kualitas dan peningkatan kehilangan, sebagai akibat pengaruh cuaca yang tidak menguntungkan maupun investasi hama dan penyakit di lapangan.
Dengan pelaksanaan panen yang tepat waktu dan tepat penggunaan alat panen, misalnya pemanenan dengan menggunakan sabit bergerigi dan merontoknya segera dengan pedal tresser maka akan diperoleh hasil padi yang optimal karena butir padi berisi penuh serta  biji yang terbuang dapat diperkecil. Begitu juga unt tanaman pangan lainnya bila dilakukan panen yang akan memberikan hasil yang maksimal.
Pengolahan dan Pemasaran yang tepat
Dalam mengantisipasi dan adaptasi perubahan iklim perlu dilakukan pengolahan dan pemasaran tanaman pangan yang tepat, misalnya jagung karena pengaruh iklim yang terjadi maka tanaman jagung segera dipanen dengan melakukan penjualan jagung rebus, karena bila dibiarkan sampai kering di tongkol maka pengeringan tidak bagus akibat hujan yang terus menerus. Dengan dijual sebagai jagung muda, maka hasilnya akan lebih baik dan kualitasnya lebih tingi dan para pembeli merasa puas dengan keadaan itu.
Contoh lain misalnya musim kemarau yang panjang maka pemanenan padi dapat dilakukan maksimal sehingga proses pengeringan gabah dapat dilakukan dengan sempurna. Petani disarankan menggiling padinya dulu baru beras di jual ke pasar. Karena dengan menjual beras lebih menguntungkan petani bila dibandingkan hanya menjual gabah. Setiap 100 kg gabah petani hanya memperoleh uang kurang lebih 3.000.000, sedangkan bila dijual berupa beras maka petani memproleh uang kurang 3.700.000 ditambah sisa dedak dan bekatul. Jadi disarankan para petani di lapangan mengolah dan menjual hasil tanaman pangannya dengan tepat.

AGENDA KEPEDIHAN


Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka
namanya tersohor dikampusnya sana. Orang
bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang
kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang
bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku
sampaikan padamu nak? Ibu bilang engkau hanya
seorang putra kecil ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang
aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu
seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu
berusaha mengerti betapa engkau ingin agar
waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.
Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah
menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah
sesuatu yang sia-sia nak? Sungguh setengah dari
umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan
dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa
pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang
sia-sia.
Anakku, kita memang berada disatu atap nak,di
atap yang sama saat dulu engkau bermanja
dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu
nak? ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini.
Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,
dengan penuh doa agar Allah senantiasa
menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan
wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini,
tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum
untuk ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi
ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu
lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu
lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk
tersenyum, sekedar untuk mengalihkan
pandangan pada ibumu saja engkau engkau,
katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline.
Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali
mendengar segala kegiatanmu hari ini,
memastikan engkau baik-baik saja, memberi
sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih
tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau
nak, tapi bukankah aku ini ibumu? yang 9 bulan
waktumu engkau habiskan didalam rahimku..
Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu
sibuk nak. Nampaknya engkau begitu
mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau
mengatur segala strategi untuk mengkader
anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan
semua itu, ibu bangga padamu. Namun, sebagian
hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau
menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau
mengkhawatirkan ibu seperti engkau
mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? kapan
terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu
nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari
anggota organisasimu nak?
Anakku, ibu sungguh sedih mendengar
ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak
produktif ketika harus menghabiskan waktu
dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan
waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan
tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga
menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau
lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah
tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah
amanahmu yang juga harus kau jaga nak?
Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu.
Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat
nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji,
ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.
Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada
sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi
dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi
lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama
ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak, tak
ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.
Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak,
andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak
ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu
selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku..
Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,
mereka bilang engkau seorang organisatoris yang
profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana
profesionalitasmu untuk ibu? dimana
profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau
letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau
buat ?
Ah, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai
ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar
engkau bisa bersama ibu..
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya.
Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah,
kakak dan adik. Akhirnya tak mundur sedetik tak
maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan
sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang
rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk
diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang
terlambat teruntai.
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan
pernah putus, untuk mereka sang penopang
semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada
yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas
yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, Mustahil
kuperoleh ridhaNya..

Semoga Bermanfaat, sekedar renungan untuk para

rekan-rekan generasi muda..

Senin, 28 Mei 2012

Analisis Usaha Tani Kakao


A. Latar Belakang
Kakao adalah komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang tahun. Sehingga, banyak petani kepincut untuk membudidayakannya. Kakao atau Theobroma cacao L., merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cocok dengan kultur tanah dan iklim di Indonesia. Tanaman ini termasuk golongan tumbuhan tropis.
            Karena, hasil komoditasnya yang bernilai ekonomi tinggi mendorong minat para petani di sana untuk membudidayakannya. Namun, tidaklah mudah membudidayakan tanaman ini. Persiapan naungan dan lahan merupakan dua hal penting yang perlu diperhatikan. Naungan itu bisa berupa tanaman pelindung, seperti lamtoro, gleresidae, dan albazia. Selebihnya, proses membudidayakan kakao tak terlalu rumit.
            Prospek bisnis budidaya tanaman kakao sangat menjanjikan jika di tanam pada tanah yang sesuai. Tanaman kako perlu di tanam di tanah yang kaya akan unsur hara dan mikro alami. Tanaman kakao juga perlu perhatian ekstra dalam perawatan agar bersih dari hama dan penyakit. Jika hal tersebut diperhatikan maka tanaman kakao akan menghasilkan kualitas yang baik dan hasil juga berlimpah.
            Menurut Balitbang Pertanian Departemen Pertanian , pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US$ 701 juta, meskipun pada tahun 2005 menurun sumbangan devisanya menjadi sebesar US$ 664,35 juta karena fluktuasi rupiah terhadap dolar dan diterapkannya peraturan WTO yang memberikan hak kepada negara importir untuk mengklaim mutu kakao yang diimpor.
            Perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an. Pada tahun 2005, areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 1.167.046 ha dimana sebagian besar (92,6 %) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 3,3 % perkebunan besar negara serta 4,1 % perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Di samping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
             Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading pada tahun 2002, walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003. Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan hama pengerek buah Kakao (PBK). Di samping itu, perkakaoan Indonesia dihadapkan pada beberapa permasalahan, antara lain mutu produk yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao.
            Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik. Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar untuk pengembangan kakao yaitu lebih dari 6,2 juta ha terutama di Irian Jaya, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Sulawesi Tenggara. Disamping itu kebun yang telah dibangun masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya karena produktivitas rata-rata saat ini kurang dari 50 % potensinya. Di sisi lain situasi perkakaoan dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit, sehingga harga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi bahkan cenderung dari tahun ke tahun terus meningkat. Posisi akhir harga kakao dunia tahun 2006 mencapai US$ 1,58,7/lb atau US$ 49,39 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada tahun 2001 sebesar US$ 49,39 /lb.
Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik untuk segera dimanfaatkan. Upaya peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Berdasarkan kondisi harga kakao dunia yang relatif stabil dan cukup tinggi tersebut maka perluasan areal perkebunan kakao Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut dan hal ini perlu mendapat dukungan agar kebun yang berhasil dibangun dapat memberikan produktivitas yang tinggi.
            Adapun proses awal budidaya tanaman kakao yaitu :
1.      Persiapan Lahan
§  Bersihkan lahan dari rumput liar yang mengganggu (jika lahan kosong).
§  Gunakan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C. caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan
§  Setahun sebelum proses tanam lahan sebaiknya diberi tanaman pelindung seperti lamtoro, Albazia dan lainnya namun jika sudah mencapai tahun ketiga semenjak masa tanam, maka tanaman pelindung harus dikurangi sampai tinggal satu phon pelindung untuk tiga tanaman kako.(1 : 3)
2.      Pembibitan
§  Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok.
§  Rendam biji kakao dengan Biotama 1, untuk mempercepat masa dormansi.
§  Biji kakao dikecambahkan dengan karung goni dalam ruangan, setiap hari disiram 2 kali dalam sehari (pagi dan sore).
§  Sementara itu siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm , isi dengan tanah dan pupuk kandang (1 : 1) yang dibuat menggunakan Biotama 3.
§  Kecambah dipindah ke Polybag jika 2-3 hari yang berkecambah lebih 50%.
§  Tiap 2 sd 3 minggu sekali bibit disemprot dengan campuran Biotama 1 dan air (1 tutup botol Biotama 1 dilarutkan dalam air 1 liter) pada pagi hari (sebelum jam 7 pagi) atau sore hari (setelah jam 16.00) setelah matahari mulai redup.
3.      Penanaman dan pemeliharaan
Proses penanaman dilakukan pada akhir musim hujan, dimana diawali dengan membuat lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm yang telah diberikan pupuk kandang (yang dibuat dengan Biotama 3) sebanyak 0,5 sd 1 kg/lubang. Sebelum penanaman bibit dipastikan bahwa tanaman naungan sudah mempunyai tinggi tanaman sekitar 1 sd 1,5 m.
            Setelah tanaman berumur 1 bulan setelah tanam, semprotkan larutan Biotama 1 & Biotama 5 pada tanaman di pagi hari sebelum matahari terbit kalau di Indonesia sebelum jam 7 pagi atau sore hari kalau di Indonesia sekitar setelah jam 4 sore (saat matahari belum terbit ataupun matahari sudah terbenam) , waktu penyiraman setiap 2 minggu sekali secara rutin sampai tanaman berbunga. Tanaman disemprot 5 – 6 tangki @ 15 liter larutan Biotama / hektar.
4.      Pemupukan
Dosis pemupukan tanaman yang belum berproduksi (gram/tanaman):

§  Umur 2 bulan: ZA=50 gram/pohon.
§  Umur 6 bulan: ZA=75 gram/pohon; TSP=50 gram/pohon; KCl=30 gram/pohon; Kleserit=25 gram/pohon
§  Umur 12 bulan: ZA=100 gram/pohon
§  Umur 18 bulan: ZA=150 gram/pohon; TSP=100 gram/pohon; KCl=70 gram/pohon; Kleserit=50 gram/pohon
Umur 24 bulan: ZA=200 gram/pohon Dosis pemupukan tanaman berproduksi (gram/tanaman):a)   Umur 3 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 50 gram/pohon, KCl = 2 x 50 gram/pohon.b)   Umur 4 tahun: ZA = 2 x 100 gram/pohon, Urea = 2 x 100 gram/pohon, KCl = 2 x 100 gram/pohon.c)   > 5 tahun: ZA = 2 x 250 gram/pohon, Urea = 2 x 125 gram/pohon, KCl = 2 x 125 gram/pohon. Pemupukan dilakukan dengan membuat alur sedalam 10 cm di sekeliling batang kakao dengan diameter kira-kira ½ tajuk. Waktu pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim hujan.



B. Analisis Anggaran
Dalam proses budidaya tanaman kakao, pendapatan bersih tani merupakan suatu tolak ukur untuk melihat profitabilitas tahunan suatu usaha tani kakao rakyat. Dimana pendapatan bersih usaha tani dipeoleh dari hasil pengurangan seluruh biaya secara riil yang dikeluarkan oleh petani selama proses perawatan atau pemuliaan tanaman. Beberapah factor produiksi seperti tenaga kerja keluarga, modal sendiri, serta tanah milik sendiri tidak dihitung. Adapun pendapatan produksi tanaman kakao dalam lahan 1 hektar yaitu :
1.      Agro Input
Agro input yang dibutuhkan untuk usaha tani kakao 1 Ha.
a.       Bibit coklat     1.010 pohon  x Rp. 2.500                   = Rp. 2.525.000
b.      Sarana produksi
§  Pupuk
-          Urea 550 kg x Rp. 1.500                = Rp.    825.000
-          Sp36 250 kg x Rp  2.000                = Rp.    500.000
-          Kcl   200 kg x Rp  2.800                = Rp.    560.000
-          ZA    200 kg x Rp  1.500                = Rp.    300.000
§  Herbisida
-          Gramoxon  5 liter x Rp. 55.000          = Rp.    275.000
§  Pestisida
-          Decis 25 EC 500ml x Rp. 500            = Rp.    250.000
c.       Pajak lahan dalam 1 tahun                                          = Rp.      90.000
d.      Biaya tenaga kerrja produksi
-          Pembersihan lahan  25 HOK x Rp. 40.000= Rp. 1.000.000
-          Pembuatan lubang 20 HOK x Rp. 40.000 = Rp.     800.000
-          Angkutan Bibit  3 HOK x Rp. 40.000       = Rp.     120.000
-          Penanaman  20 HOK x Rp. 40.000            = Rp.     800.000
-          Pemupukan  4 HOK x Rp. 40.000             = Rp.     160.000
-          Penyiangan  2 HOK x Rp. 40.000             = Rp.       80.000
-          Pemberantasan Hama dan
-          Penyakit  5 HOK x RP 40.000                   = Rp.   200.000
-          Pemangkasan 10 HOK x Rp. 40.000         = Rp.    400.000
e.       Panen dan Pascapanen
-          Pemetikan buah 5 HOK x Rp. 40.000       = Rp.   200.000
-          Pembelahan buah 2 HOK x Rp. 40.000     = Rp.      80.000
-          Pengeringan 4 HOK x Rp. 40.000             = Rp.   160.000
-          Pengepakan 2 HOK x Rp. 40.000              = Rp.      80.000
Total biaya                                                                  = Rp. 9.405.000
  
f.       Produksi
-          Harga per kg   = Rp. 21.000
-          Berat bersih     = 995 kg
Jumlah produksi : 1030 kg x Rp. 21.0000  = Rp. 21.630.000
g.      Biaya produksi  =  Rp. 9.405.000
h.      Keuntungan bersih = Rp. 21.630.000 - Rp. 9.405.000 = Rp. 12.225.000
i.        R/C  =  2,5
Kesimpulan : Usaha atau proses budidaya tanaman kakao layak untuk di usahakan karena telah terbukti bahwa setiap kita mengeluarkan modal sebesar Rp 1 maka akan dapat memberikan keuntungan sebesar Rp 2,5.

Senin, 14 Mei 2012

APA ARTI SEBUAH KEBAHAGIAAN


Ada yang bilang kebahagiaan itu dari berasal dari hati. Ada juga yang berpendapat bahwa bahagia itu dapat dibeli. Atau bahkan ada juga yang bilang bahwa bahagia itu hanya untuk dirasakan bukan untuk dikonsep.

Apakah bahagia itu? Apakah di saat kita bergelimangan harta sedangkan orang lain kesusahan? Apakah di saat kita sehat sedangkan yang lain sakit tak berkesudahan?Apakah di saat kita berhasil sementara orang lain berkesulitan?

Apakah kita selalu bahagia ketika kita berada di jenjang SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, hingga dunia kerja nanti serta dengan popularitas saat ini? Akan tetapi sepertinya kenyataan tidak menunjukkan seperti itu.

Ada sebuah istilah di dalam dunia perfilman yaitu Happy Ending (Akhir Yang Bahagia). Tetapi sekali lagi, entah mengapa saya sedikit tergelitik mendengar istilah tersebut. Apakah bahagia itu selalu datangnya di saat-saat terakhir? Dalam hati apakah bahagia itu seperti pahlawan-pahlawan di dalam film Action Heroes? Yang mereka selalu datang terlambat! Kalau seperti itu, bisa jadi kita bahagia nanti pada saat kita sudah menjadi kakek atau nenek (Kalau umur kita panjang tentunya). Lantas bagaimana kita menikmati kebahagiaan itu. Kalau ternyata umur kita tinggal sedikit lagi untuk menikmati hal tersebut.

Seketika saya ingat sebuah ucapan dari seorang filsuf atau sufi Imam Al Ghazali, mengenai kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa Bahagia itu ketika kita sudah ditingkat Ma’rifatullah (Mengenal Allah). Seperti halnya perasaan seorang rakyat kecil yang berkenalan dengan pejabat kelurahan, maka ia akan bertambah rasa bahagianya ketika ia berkenalan dengan camat, walikota, gubernur, bahkan presiden atau jabatan-jabatan yang dianggap tinggi. Maka bagaimana tidak bahagianya kita jika kita sudah dapat mengenal Raja dari Segala Raja di dunia ini yakni Allah SWT.

Walau ditimpa berbagai macam parahnya ujian kehidupan ini. Jikalau kita mengenal Allah maka kita akan merasa bahwa kita akan mendapati kebahagiaan itu. Karena kita qonaah (baca: menerima) terhadap segala iradah Allah SWT. Seperti halnya banyak kita jumpai orang yang miskin secara ekonomi di pelosok-pelosok desa akan tetapi hidup mereka bahagia, karena mereka memang menerima dan tidak mengeluh dengan keadaan mereka. Berbeda dengan manusia-manusia rakus yang bergelimangan harta karna menipu rakyat, yang bisa membeli segala sesuatu dengan uangnya, hidup mereka pun tidak-lah se-bahagia yang orang lain bayangkan. Dan bahkan, mungkin kita lebih bahagia dari mereka.
 Bersyukurlah....Amin