Perbuatan seks, yang melibatkan kenikmatan
saraf-saraf di tubuh kita dan acapkali terlampau terpaku ada organ tubuh yang
dipahami sebagai alat kelamin (penis dan vagina) tetapi sebetulnya dapat juga
melibatkan organ lain seperti tangan, dada, sela paha, mulut dan dubur, dan
pemahamannya secara sosial-budaya yang dikenal dengan istilah seksualitas, pada hemat saya terlalu
diistimewakan dalam masyarakat kita.
Patut kita renungkan mengapa seks dan
seksualitas begitu diistimewakan, sehingga diselubungi, diintip,
dikomodifikasi, diharamkan, bahkan ada yang dikutuk (seperti seks di antara
saudara, orangtua dan anak, dsb.), namun juga oleh sebagian orang dianggap amat
berharga, bahkan dirayakan. Ancangan berpikir konstruksi social menyadari bahwa
penyelubungan, pelarangan dll. Itu disusun oleh suatu masyarakat, biasanya oleh
mereka yang berkuasa di dalamnya, secara berbeda atau lain dengan apa yang
didapati di masyarakat lain.
Di Mesir pada zaman Cleopatra
misalnya, justru perkawinan antar saudara kandung menjadi pola pada keluarga
kerajaan, supaya tuah kerajaan (artinya juga harta dan kekuasaan) tetap di
dalam dinasti yang berkuasa. Di banyak masyarakat Nusantara, perkawinan antara
sepupu sering terjadi. Sementara masyarakat yang didasari pemikiran genetika
modern cenderung menabukannya. Penetrasi anal terhadap anak laki-laki oleh
laki-laki dewasa sebaya ayah mereka (tetapi bukan ayahnya sendiri) pernah
menjadi ritus akil-balig bagi anak laki-laki di
beberapa kelompok etnik di Melanesia, seperti pernah dicatat pada suku Asmat
sebelum masuknya agama Kristen Katolik.
Dalam sejarah masyarakat di
Nusantara pernah ada penulisan dan pencitraan yang lugas dan terbuka mengenai
seks dan seksualitas. Serat Centhini dan banyak lagi naskah Jawa semasa
dari abad ke-18 dan 19, misalnya, dengan ceria dan berseni menggambarkan dua
orang santri yang sesudah melakukan hubungan seks oral, mandi junub dan
kemudian sholat subuh bersama. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada yang
istimewa, dan hebatnya, adegan itu diungkapkan dalam puisi yang bermutu tinggi.
Di candi-candi peninggalan kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara juga ditemui
lingga dan yoni yang merupakan representasi penis dan vagina. Dan sebetulnya
kalau kita melihat masyarakat kita yang tidak munafik, umumnya di kalangan
kelas pekerja, masih banyak ekspresi seks dan seksualitas yang lugas dan cenderung
merayakannya, seperti ukiran kayu atau kulit kerang berbentuk penis berbagai
ukuran yang dibuat dan dijual di banyak tempat.